Kamis, Desember 10, 2015

Ucapan Terima Kasih



:: Ucapan Terima kasih ::

Alhamdulillah. 
Buku Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Pertanian telah terbit dan beredar di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia.
Saya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada saudara-saudari dan sahabat yang telah banyak membantu dan memberi informasi terkini untuk dimuat dalam buku ini.

Mbak Dede Tantri Palupi, terima kasih telah mengirim kurikulum terbaru^_^ smile emoticon
Mbak Rani Akyun, terima kasih sudah berbagi info peluang karier lulusan Fakultas Pertanian.
Marwan ChamakhDodie MaulidianAhmad Nurdin SiregarFitri Abassuni,Tety HerawatyHesti LoovianiIrwan Arief RachmanLili Febrianti, terima kasih sudah memberi testimoni pengalaman kuliah.

Semoga semua sumbangsih menjadi amal jariah.
Semoga buku ini bermanfaat untuk generasi muda, calon pemimpin negara Indonesia di masa depan. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal 'aalamiin.




Minggu, Desember 06, 2015

Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Pertanian

Judul buku : Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Pertanian

Penulis: Ida Fauziah

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2015

Dijual di toko buku Gramedia seluruh Indonesia




Sebagian besar lulusan sekolah menengah ingin bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Tetapi banyak dari calon-calon mahasiswa tersebut, masih ragu dengan jurusan yang akan dipilih.
Apakah Kamu juga merasakan hal itu? Apakah Kamu sudah tahu, fakultas mana yang akan menjadi pilihan? Atau Kamu masih bingung dan masih belum menentukan pilihan?
Yuk, intip fakultas yang ilmunya akan selalu bermanfaat sepanjang zaman. Tahukah Kamu, apakah nama fakultas itu? Fakultas Pertanian.
Pertanian merupakan bidang kehidupan yang penting untuk manusia. Selama manusia masih bernapas dan memerlukan makanan, tentu manusia memerlukan hasil pertanian untuk memenuhi keperluan hidupnya.
Apakah Kamu masih penasaran, mengapa lulusan Fakultas Pertanian selalu diperlukan? Mengapa harus memilih fakultas pertanian? Di Seluruh propinsi di Indonesia, universitas mana saja yang memiliki jurusan Pertanian? Bagaimana persiapan untuk masuk Fakultas Pertanian? Apa saja ilmu yang akan dipelajari? Profesi apa saja yang bisa ditekuni oleh lulusan Fakultas Pertanian?
Yuk baca dan miliki buku ini. Rasa penasaranmu akan terobati. Jawabannya akan Kamu temukan dalam buku ini.



Rabu, Desember 02, 2015

Buku Baru: "Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Pertanian"




Alhamdulillah. Di penghujung tahun 2015, awal bulan Desember, telah terbit buku baru.
Judulnya: "Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Pertanian".
Buku ini merupakan rangkaian suka duka dan lika-liku selama kuliah di Fakultas Pertanian (Faperta).
Tidak ketinggalan info detil tentang persiapan dan tips sukses kuliah di Faperta serta peluang karier setelah lulus. Semoga buku ini bermanfaat. Aamiin.

Selasa, Desember 01, 2015

Sekolah Perempuan Gelombang 10








Testimoni Peserta SP10


Iha Rosihah
Belajar di Sekolah Perempuan 10 jadi paham bahwa menulis yg baik itu tidak se-simple yg biasa sy lakukan tapi juga bukan hal yg tidak mungkin untuk dipelajari & kuasai
Makasih para suhu SP 10


Maryati Imang
Bergabung dengan IIDN sudah lebih dari setahun, namun hanya menjadi pembaca pasif. Baru sebulan lalu tiba-tiba tergerak ikut Sekolah Perempuan10. Diniati banget ikut, dengan reparasi laptop dan beli kartu perdana baru 2 biji! Senin dan Rabu malam jadi spesial karena mantengin laptop bersama Keenan disisi kanan dan kiri. Tetep, muter-muter hihihi. Senyumnya semakin lebar saat mbak Anna Farida atau mbak Artha Julie Nava menyapa "Hallooow Keenan". Menyenangkan berkenalan dengan teman-teman yang dengan kegiatan domestik maupun karir/bisnisnya memiliki dengan passion yang sama, berbagi lewat tulisan.Dan ternyata sudah ada beberapa yang sudah pernah nerbitin buku. Saya?pemula hehe. Efek webinaran jadi mulai rajin nulis lagi,minimal status di FB dan update blog. Calon buku kelar sebelum 2015 berakhir? Semogaaaa.....


Nurmalia Ika
Berproses dengan waktu, sembari saya mengingat waktu SMP yang senang sekali menuliskan segala sesuatu baik jatuh cinta ataupun sedih di diary, pernah karena terlalu banyak saya tuliskan dalam diary saya sampai saya bukukan saya jilid, entah berapa halaman karena tebal. Sejarah awal saya mulai belajar menulis sampai dengan sekarang dengan blog pribadi, banyak puisi-puisi anak remaja, banyak renungan-renungan didalamnya, dan pernah karena bingung memberi hadiah saya menuliskan berlembar-lembar dikertas untuk hadiah seseorang yang istimewa waktu itu, setiap hari 1 lembar dalam 1 tahun pas hari Ulang Tahunnya, yang akhirnya menjadi buku saya jilid sendiri, dan tidak dijual di toko bukun hehe...., kisah tentang persahabatan. Menulis ternyata proses memaknai sejarah hidup saya, mencoba mengaktualisasikan bersama teman-teman di Sekolah Perempuan Gel 10, terimakasih mau berbagi ilmu untuk Ibu Anna Farida dan Ibu Ida Fauziah, dan semua mentor, semoga saya bisa bisa konsisten dan serius ya, mari kita ramaikan dunia ini dengan menorehkan apa yang ada di benak kita sehingga langit bisa melihat kita dan membaca jejak kita dengan menulis......ayo teman-teman kalian 

Nur Islah
Sempat maju mundur cantik ikut Sekolah Perempuan. Di dalam pikiran saya, kenapa harus ikut SP jika hanya ingin belajar menulis. Tidak kurang di dunia maya sana tips-tips menulis yang bisa dipelajari, cukup ketik kata kunci, bertebaranlah tips-tips menulis dari yang pendek, panjang, sampai yang sangat detail. Buku-buku yang membahas cara menulis juga tidak kalah banyaknya. Mulai dari karangan penulis yang sudah top markotop, yang sudah terbukti dengan jumlah karya sampai ribuan, sampai yang ditulis oleh penulis yang masih pemula. 

Memang benar kata orang, jika bergaul dengan penjual parfum, akan terciprat harumnya juga. Bergaul dengan orang-orang yang passionnya menulis di SP, mencipratkan wangi motivasi untuk selalu berkarya seperti mereka, selalu menulis, selalu mengikat ilmu dengan tulisan.
Bukan hanya belajar teknik menulis saja yang saya dapat, tapi yang lebih utama, yang dulu tidak terpikirkan menjadi terpikirkan. Yang hanya pernah dibayangkan, sekarang bisa diusahakan untuk terwujud. Karena SP bukan hanya memberikan ilmu melalui webinar, tapi juga jejaring yang luas, yang akan membantu teman-teman alumni SP untuk saling menyemangati, untuk tetap menulis dan berkarya.



Ibnia Veni
Belajar di Sekolah Perempuan Gel. 10, ruaaar biasaaa ..., kelas online yang penghuni kelasnya sudah tentu perempuan semua ini, kebanyakan memiliki obsesi jadi penulis. Betapa tidak, Sekolah Perempuan adalah wadah bagi perempuan untuk belajar menulis dengan target menyelesaikan satu naskah buku siap terbit. Juga bagaimana gak seru, belajarnya selalu berpacu dengan ngantuk karena jam tayangnya adalah prime time ngantuk-ngantuknya, 20.00 - 22.00 hehehe ..., usaha mengatasinya dengan aktif chatting dengan pengajar atau sesekali dengan sesama siswa di samping melototin materi dan pasang kuping. Belum lagi PR-PRnya yang singamati - plesetan deadline (dead lion) oleh para pengajar selalu Sabtu malam ... (kapan istirahatnya?). Lalu ada kalanya sakit kuping ketika suara pengajar pecah atau kalau suaranya timbul tenggelam, tapi tentu itu tidak seberapa dibandingkan materi kekiniannya di webinar yang ..., membuat mata berbinar-binar ... asyiknya tuh di sini. 


Camelia
Gara-gara mbak Nurmalia Ika Manizz minta PR sama para mentor, saya jadi 'wajib' menuliskan testimoni soal Sekolah Perempuan. Sebenarnya tanpa di suruh pun, saya baru saja mau membagi kisah seru 'nyemplung' di Sekolah ini. Kalau ditanya asyik dan serunya sekolah disini, jawabannya banyak. 

Ketemu teman-teman baru yang ternyata sudah jadi penulis keren dan ketemu mentor-mentor yang sudah punya banyak buku best seller. Di sekolah perempuan, saya gak perlu datang ke kampus kalau kuliah. Cukup buka laptop langsung bisa berinteraksi dengan guru nya pake webinar. Kuliah disini, saya bisa bertemu dan berkomunikasi dengan guru saya Indari Mastuti di bandung, mbak Ida Fauziah di Johor Bahru, Artha Julie Nava di Detroit AS dan cik gu Anna Farida. Mereka semua pribadi yang asyik dan menyenangkan lo. Cantik, suaranya merdu, jago nulis pasti dan gak pelit ilmu. Semua murid langsung dapat mentor. Targetnya, setelah lulus, saya bisa menerbitkan buku. keren kan?. Di jamin, materi diberikan semua tanpa rahasia. Yang jadi rahasia adalah, waktu kuliah kita semua bisa sambil pake daster...heheheheh





Dinii Fitriyah
Agak menyesal kemarin tidak mengikuti webinar terakhir di Sekolah Perempuan. Padahal kemarin materi terakhir. Ditunggu rekamannya masih blm muncul, udah kayak nunggu apa aja. Sungguh merasa kehilangan krn tiap Senin dan Rabu malam itu menjadi hari yang sangat ditunggu2. Dari skian training yang saya ikuti, baru kali ini merasa menyesal telah melewatkan materinya. Kesel sama provider karena sinyal tidak bersahabat.
Sekolah Perempuan, dengan mentor2 luar biasa, meskipun ada yang di Amerika, ada yang di Malaysia, di Indonesia, tp smua berkomitmen untuk melahirkan penulis2 handal. Menjawab smua pertanyaan di kelas dengan sabar dan rinci. 
Di SP bukan hanya sekedar belajar menjadi penulis yang baik, belajar bagaimana menerbitkan buku, tp juga saya jadi tau seberapa mampu saya menjadi penulis. Saya jadi PeDe bahwa tulisan saya juga layak dibaca. 
Dan.. saya menyesal tidak ikut SP dari dulu
J

Poeji Oetaminingsih
Pengalaman baru yang sangat menarik dan menantang. Bukan hanya targetnya yang menantang yaitu menghasilkan 1 buah buku, cara belajarnya pun menantang kuliah online ...Setiap jadual pelajaran berikutnya selalu ditunggu -tunggu materi nya menarik, cara membawakannya juga menarik..bisa belajar bersama anak , padahal bayarnya hanya 1 lho ...ha..ha..ha...dan satu hal lagi yang menarik ..walau jarak jauh kita tertantang untuk disiplin ...disiplin dalam mengikuti pelajaran, disiplin mengerjakan PR...pokoknya seru......3 D untuk Sekolah Perempuan : disiplin, digital, ditantang...ha..ha..ha...

Joy Amarta
Tak kenal maka tak sayang, tak dekat maka tak dapat. Satu kata satu tujuan dan satu makna. Untuk SP sungguh the best. Menjaring, mencipta, membuat, mengelola kita perempuan menjadi mandiri, tahu lebih banyak, berpola maju ke depan. Smart dalam segala pengetahuan. Telusuri, jajaki, dan masuki ruang SP jika ingin menjadi apa yang dinamakan perubahan dalam hidup. Berproses dari tidak tahu menjadi tahu, berproses dari merangkak menjadi berdiri. Berproses dari nol menjadi angka 10. Langkah yang mudah akan tercipta dengan belajar. Stop untuk berkata NO, karena di sinilah kita akan digembleng secara periodik, bertahap menjadi perempuan super. Terasah otak, pengetahuan bertambah, minat membaca menjadi target, bertambah rekan dan sahabat. Bertambah rezeki tentunya. SEKOLAH PEREMPUAN jawaban Anda dalam proses menuju wanita cerdas, cemerlang, bersahabat dan berwawasan modern. Go SP, kembangkan sayapmu hingga mencetak seribu generasi wanita-wanita hebat.

Rabu, November 18, 2015

Anugerah Cemerlang 2015





Alhamdulillah.

Selamat untuk Humayra Qurrata Ayni yang baru saja menyelesaikan tahapan sekolah dasar di Sekolah Kebangsaan Sri Pulai Perdana, Kangkar Pulai, Johor.
Humayra meraih 4 gelar Anugerah cemerlang.
Pertama, Anugerah 5A untuk UPSR (macam Ebtanas) dengan nilai A semua untuk 5 mata pelajaran yang diujikan. Yaitu: bahasa Melayu Pemaham, Bahasa Melayu Penulisan, Bahasa inggris, Matematika, dan Science.

Kedua, Humayra juga meraih penghargaan bidang Syakhsiah (apa ini ya artinya?,
Syaksiyah artinya murid yang memiliki kepribadian terpuji.
Penghargaan ini hanya diperoleh 1 orang murid perempuan dan 1 orang murid laki-laki untuk satu sekolah.

Ketiga, Humayra memperoleh nilai tertinggi Bahasa Melayu Pemahaman ('kan orang Melayu Pontianak, hehehe), 

Keempat, Humayra menerima Anugerah tertinggi aliran (dari semua murid kelas 6) di sekolahnya.


Semoga Humayra dapat istiqomah dalam menuntut ilmu.
Dan yang paling penting tingkatkan adab dan akhlaq mulia.
Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.



Selasa, Oktober 20, 2015

Buku Baru: "Hijrah Menuju Kemenangan"








AlhamduliLlaahi Rabbil 'aalamiin ...
Di awal tahun 1437 Hijriyah, bulan Muharram yang penuh berkah, Buku bukti terbit HIJRAH MENUJU KEMENANGAN sudah tiba di Johor Bahru.

Buku ini terbitan Sygma, Bandung.
Buku ini merupakan buku seri Rasulullah Teladan Utama dengan 10 judul.
Terima kasih Cikgu Ali Muakir yang telah mengajak dan mempercayai saya untuk menulis buku ini. 
smile emoticon

Thank you Papa Dedy Wicaksono sudah membawakan dari tanah air ^_^
heart emotico

Selasa, Juni 16, 2015

Cinta dalam Skutel Makaroni

Sinar surya hampir sirna. Hembusan angin dingin, menyejukkan kota pahlawan senja itu. Beberapa saat menjelang bedug magrib, aku tertegun menatap meja makan. Ada beberapa gelas es campur, sepiring kurma dan seloyang skutel makaroni. Sejenak, aku menghela napas. Bukan karena makanan yang tersaji tidak menarik seleraku. Tapi, karena ada satu makanan yang mengingatkanku pada belahan jiwaku. Skutel makaroni, nama makanan itu.
Siapa pun pasti tahu, skutel makaroni adalah makanan yang enak dan super lezat. Apalagi dengan taburan keju yang banyak, tambah mantap rasanya. Tapi kali ini, entah mengapa, memandangnya membuatku menjadi sedih.  Iya, skutel makaroni adalah makanan kesukaan suamiku. Skutel makaroni mengingatkan aku padanya. Suamiku yang sedang jauh di negeri Belanda, telah berkali-kali kami tidak melaksanakan Ramadhan bersama.
Allahu Akbar…Allahu Akbar” suara azan terdengar dari mushalla dekat rumahku. Aku, putriku dan kedua mertuaku, duduk mengintari meja makan. Aku membaca doa berbuka. Segera kubatalkan puasa dengan secangkir air putih dan dua biji kurma. Kulihat, putriku dengan lahapnya menghabiskan potongan skutel makaroni di piringnya. Aku hendak beranjak meninggalkan meja makan. Tapi, pertanyaan dari Ibu mertuaku, menghentikan langkahku. “Skutel makaroninya kok nggak dimakan?” tanya Ibu mertuaku. Aku hanya tersenyum. Aku tak ingin mengecewakan Ibu mertuaku. Aku tahu, beliau pasti akan kecewa jika aku tidak memakan skutel makaroni buatannya. Sebelum meninggalkan meja makan, tangan kananku meraih piring jatah skutel untukku. “Aku bawa ke kamar atas ya Mom,“ kataku meminta persetujuan beliau. Beliau mengangguk tanda setuju. Aku berjalan menjauhi meja makan. Kakiku menaiki tangga, menuju kamarku di lantai atas.
Skutel makaroni kuletakkan di atas meja. Selesai berwudhu, aku menenggelamkan diri di sajadah lembutku. Ketika selesai salam dan berdoa, mataku kembali menatap sepiring skutel makaroni di atas meja kecil di dekatku. Aku tertegun sesaat, pikiranku terkenang beberapa tahun yang lalu.

Musim semi bertabur bunga sakura, tahun 2002 , aku membuat skutel makaroni untuk pertama kalinya. Kala itu, aku baru saja menikah. Aku sedang mengikuti suamiku yang menjalani studi master di negeri matahari terbit.  Jujur, semasa gadis, aku belum pernah membuat skutel makaroni. Memakannya mungkin pernah, tapi membuatnya? Belum pernah sama sekali. Setelah menikah, aku baru tahu, ternyata suamiku paling suka makan skutel makaroni. Awalnya, tentu saja aku bingung. Tapi, untunglah sebelum berangkat ke Jepang, Ibu mertuaku telah membekaliku dengan catatan resep skutel makaroni.  Dan aku pun memberanikan diri untuk membuat skutel makaroni dengan bermodal petunjuk dari resep itu.
Skutel makaroni perdanaku, aku buat dengan bahan seadanya. Letak apartemen kami yang jauh dari toko daging halal, membuatku terbiasa masak tanpa daging sapi atau daging ayam. Aku lebih sering membeli seafood. Begitupun, dengan skutel makaroni buatan pertamaku. Aku gunakan udang dan tuna untuk campuran skutel makaroni itu. 
Masih kuingat, betapa skutel makaroni buatanku itu, sangat asin, keras dan hampir gosong. Tapi, hatiku menjadi berbunga-bunga karena suamiku memuji skutel buatanku itu. “ Enak…enaaak” katanya berulang-ulang. Potong, demi potong, skutel makaroni itu habis dilahapnya. Bahkan, tak secuil pun tersisa di loyang. Saat itu, aku bahagia sekali. Walaupun, aku tahu skutel makaroni buatanku tidaklah sempurna. Tapi, aku bahagia karena suamiku sangat menghargai hasil masakanku itu.
Tok…tok…tok “ suara pintu kamarku diketuk. “Ma…Mama” terdengar suara putriku memanggilku. Aku tersadar dari lamunanku. Segera aku buka pintu kamar dan menghampiri putriku. “Ada apa Sayang? tanyaku. “Ada telepon dari Papa,” katanya sambil menarik tanganku untuk mengikutinya. Dengan mukena lengkap, bergegas aku ke lantai bawah. Aku raih gagang telepon yang terletak di atas meja.
Assalamu’alaykum”kataku.
Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh” jawab suara di sana.
Aku terdiam. Suara itu begitu aku rindukan. Suara belahan jiwaku, yang sedang berada di negeri kincir angin. Telah sekian Ramadhan tidak kami lalui bersama. Ini adalah Ramadhan ke tujuh, aku tidak bersamanya.
Lho kok diam? Sakit Ma?“ tanya suamiku di ujung sana.
Alhamdulillah sehat…Papa gimana? Sehat?“ tanyaku.
Alhamdulillah sehat. Sudah buka puasa ya di Indonesia? Selamat buka puasa ya…Buka pake menu apa tadi? “kembali suamiku melontarkan pertanyaan.
Skutel makaroni” jawabku singkat.
Skutel makaroni? Wah enak donk…kirim ke sini donk, Ma!“ kata suamiku sambil bercanda.
Nggak bisa ngirimnyajauuuh! Beli saja di sana“ jawabku serius.
Beli? Bisa saja sih…tapi kan nggak bakalan sama dengan buatan mama” jawab suamiku.
Lagian di belanda, kejunya lebih bervariasi dan lebih enak” kataku meyakinkannya.
Biarpun, kejunya enak, tapi skutel makaroninya tidak bisa menyaingi buatan mama yang super uenak. Pokoknya skutel makaroni buatan mama lebih enak.” tegas suamiku.
Papa ada-ada saja…buatan mama biasa saja” ujarku agak minder.
Benar Ma, buatan mama yang paling papa suka. Karena mama membuatnya dengan penuh cinta. Makanya skutel buatan mama paling enak di lidah papa” jawab suamiku meyakinkanku.
Aku terdiam, tanpa bisa berbicara. Aku menahan rontoknya butiran-butiran bening di ujung mataku. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi dengan percakapan di telepon. Syukurlah, tak lama kemudian, suamiku mengakhiri teleponnya. Dengan tangan gemetar, aku kembalikan gagang telepon ke tempatnya.
Langkahku berat menaiki anak-anak tangga. Aku mengunci diri dalam kamarku. Sekilas mataku menatap sehelai baju kaos batik dan sehelai sarung berwarna coklat, yang tergantung di belakang pintu kamarku. Itu adalah pakaian terakhir yang dipakai suamiku, saat mengunjungiku di liburan musim panas lalu. Aku raih baju dan sarung itu. Masih tercium, aroma badan pemiliknya. Memang, sudah berbulan-bulan baju dan sarung itu tidak aku cuci. Seperti biasa, akan selalu aku dekap, jika merindukan belahan jiwaku itu. Sama seperti perasaanku saat ini,  kupeluk dengan segenap rinduku.  Air mataku mulai rontok satu persatu L.
Pikiranku melayang ke negeri keju. Aku menangkap sesosok tubuh berbadan tegap. Dia duduk tekun, sambil menahan kantuk di antara tumpukan buku-buku tebal dan paper-paper  yang berserakan. Dia bergegas ke dapurnya yang mungil, tempatnya memasak makanan untuk sahur dan berbuka. Aku seharusnya di sana. Aku seharusnya yang menata mejanya agar tetap rapi dan nyaman di pandang mata. Aku yang seharusnya di dapur itu, yang memasakkan skutel makaroni kesukaannya.
Tapi, apalah dayaku ini. Kini aku berada beribu-ribu kilometer jauh darinya. Aku yang berada di belahan bumi yang berbeda darinya. Aku yang tak bisa menjalankan ibadah Ramadhan bersamanya. Aku yang tak bisa menemani hari-harinya. Maafkan aku, suamiku.
Allahu Akbar…Allahu Akbar” kembali suara azan berkumandang dari mushalla dekat rumahku. Tanda waktu Isya telah tiba. Segeraku berwudhu kembali, bersiap menghadap Illahi.
Setelah selesai sholat, dalam dzikir panjangku, aku memohon doa tulus pada-Nya :

” Rabbi, Engkau Yang Maha Pengasih,
Kasihanilah hambamu yang lemah ini,
Hapuskanlah duka hatiku,
Gantilah air mata ini dengan kebahagiaan abadi-Mu.

Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa,
Lindungilah suamiku di sana,
Sayangilah dia dengan kasih sayang-Mu,
Mudahkanlah segala urusannya,
Bukakanlah pintu-pintu rezeki bagi kami,
Hapuskanlah segala kesedihan di hati kami,
Permudahkanlah kami untuk berkumpul bersama.  


Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.”


* Kisah ini telah dimuat dalam buku "STORYCAKE FOR RAMADHAN" terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU, 2011).